Kekurangan sebuah rumah MEWAH

Suatu ketika seorang hartawan membangun rumah idamannya
semua tenaga yang ahli dibidangnya dia datangkan untuk mewujudkan impiannya
sampai akhirnya terwujudlah sebuah rumah indah dan mewah
dia pun memanggil semua orang untuk melihat rumah barunya
dan bertanya apa yang  masih menjadi kekurangan rumahnya itu.....
tak seorang pun bisa menjawabnya
yang ada hanya decak kagum akan keindahan dan kemewahan rumahnya
sampai ada satu orang yang dengan percaya diri
mejawab " Aku tahu kekurangan rumahmu ini"
" Apakah itu?" tanya sang pemilik rumah
" Rumahmu ini indah dan mewah memang, tapi sayang tidak bisa kau bawa mati"

Ilmu Pengasihan kuno......

Untuk yang menginginkan ilmu PENGASIHAN  warisan leluhur,
ilmu ini namanya ilmu BAIK

boleh diamalkan siapa saja,TANPA MAHAR apapun
dan insya Allah bebas dari KESYIRIKAN

berikut lelakunya, 
- per-BAIK-i tutur kata
- per-BAIK-i hati
- per-BAIK-i perilaku

Pantangan yang bisa membuat PENGASIHANnya luntur adalah :
- Bertutur kata tidak BAIK kepada yang lain
- Berhati tidak BAIK kepada yang lain
- Berperilaku tidak BAIK kepada yang lain 


Kebaikan itu seperti ENERGI dan BUMERANG

ke-BAIK-an itu seperti energi dan seperti bumerang
yang tidak bisa di musnahkan dan akan kembali 
kepada yang melemparkannya
dalam bentuk dan waktu yang telah diatur olehNya
entah kepada dirinya sendiri, atau kepada anak turunnya 
atau kepada keduanya ....
entah di dunia, atau di akhirat kelak.
atau di keduanya ...

Berbuat BAIK.....
Berperilaku yang BAIK.....
Bertutur kata yang BAIK.....
Jalani hidup dengan cara yang BAIK.....
Bergaul dengan orang-orang yang BAIK.....
insya Allah kita akan diberikan kehidupan yang BAIK.....,
karena apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik dan
apapun yang kita petik, itulah hasil dari apa yang kita tanam

Mulut kita itu harimau kita

Mulut kita itu harimau kita, kata guru sekolahku dulu, jika kita tdk bisa menjaga harimau itu tetap dalam kerangkeng, atau tetap hidup di rimba belantara, maka harimau itu akan memakan kita, kita akan di maka oleh pembicaraan kita.
pena kita itu pedang kita, jika pedang itu di tarik dari sarungnya, dan kita tak bisa memakainya dengan benar, kita akan terluka oleh tulisan kita sendiri, tebasan pedang kita sendiri.
jika pedang kita menebas dan melukai orang lain, itu bukan menunjukkan kita hebat, tapi tandanya kita tidak bisa menggunakan pedang dengan semestinya, seperti kita punya mobil setiap jalan kok nabrak orang, itu berarti kita belum bisa menyopir dengan benar,

siapapun kita, jika tdk bisa memakai anggota tubuh kita dengan benar, setidaknya janganlah melukai orang lain. sebaiknya sebelum melukai orang lain di coba dulu melukai diri sendiri, sebelum menggorok leher orang lain, coba tes dulu menggorok leher sendiri.
jika enak maka berbagi menggorok leher orang lain,

berbudi pekerti baik dan mulia itu tdk harus pintar dan sekolah tinggi, cukup JANGAN LAKUKAN PADA ORANG LAIN, APA YANG KAMU TAK SUKA JIKA ITU MENIMPAMU. karena yg di rasakan orang lain itu sama dengan apa yang kamu rasakan, jika kamu di gorok lehernya sakit, maka bgt juga orang lain, jika mau melkaukan kepada orang lain, lakukan dulu pada diri sendiri. jika kamu mau meludahi orang lain, coba tes dulu orang lain kamu minta meludahimu.

sebelum ngemplang pakai ulekan ke kepala orang lain, coba berikan ulekan ke orang lain, dan minta kemplangkan ke kepalamu

Guru mursyid itu ibarat pengemudi...

Guru mursyid itu ibarat pengemudi......
kita2 sang para penumpang, yang tidak tahu jalan, yang hanya sekedar tahu nama "kota" tujuan
bernama MAKRIFAT , tanpa mengetahui "apa dan bagaimana" kota MAKRIFAT tersebut, 
tentu seharusnya nurut sama sang pengemudi, mau lurus, belok kiri, belok kanan ....
sebab sang pengemudi telah mengetahui jalannya untuk tiba disana
dan sang pengemudi tahu lubang-lubang jalan
baik yang tampak mata maupun yang tersamarkan
karena beliau telah "sampai" ke sana .....
Murid yang merasa bisa sampai kesana tanpa guru
akan tertipu daya oleh jebakan-jebakan yang dibuat oleh NAFSU dan SYETANyang ada di sepanjang perjalanannya baik samar maupun nyata
sehingga dia merasa telah benar jalannya
padahal melenceng sedikit saja arahnya akan jauh tersesat jalannya
ujung-ujungnya akan kecewa .....

Wahai syaikh ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku

Penanya : Wahai syaikh ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku. Dan terjadi masalah antara beliau dengan istriku.
Syaikh : Ulangi pertanyaanmu !
Penanya : Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku...
Syaikh : Ulangi pertanyaanmu !
Penanya : Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku ...
Syaikh : Ulangi lagi pertanyaanmu !
Penanya : Ibuku tinggal menumpang bersamaku ...
Syaikh : Ulangi lagi pertanyaanmu !!!
Penanya : Wahai syaikh tolong biarkan aku menyelesaikan dulu pertanyaanku jangan anda potong ...
Syaikh : Pertanyaanmu salah, yang benar engkaulah yang hidup menumpang pada ibumu, meski rumah itu milikmu, atas namamu.
Penanya : Iya syaikh, kalau demikian selesai sudah permasalahannya.
-aboo moaadz-
Pelajaran : Jangan durhaka wahai anak, jangan durhaka wahai menantu ! kamu dengan seluruh hartamu adalah milik ibumu.
Ingatlah bahwa suatu saat insya Allah , kita semua juga akan mempunyai anak dan menantu

Doa keluarga

Ya Allah .....
Ampunilah pula dosa-dosa kami, 
kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, sanak famili kami, 
dosa-dosa semua ahli kubur yang punya hak atas diri kami
dan kami punya hak atas diri mereka, bangkitkanlah mereka dan kami kelak di hari kiamat,
dalam ridhoMu dan dalam naungan syafaat nabiMu Muhammad SAWdan peliharalah kami semua ya Rabbi dari perbuatan dosa
baik dosa besar maupun dosa kecil baik yang kami sadari ,
maupun yang tidak kami sadari , 
disisa usia yang telah Engkau anugerahkan kepada kami

Jadikanlah kami, kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, sanak famili kami,                                     dan anak turun kami beserta seluruh cabang-cabangnya ila yaumil qiyamah
menjadi hamba yang baik bagiMu
menjadi umat yang baik bagi nabiMu
menjadi murid yang baik bagi para guru mursyid kami
menjadi anak yang baik bagi para orang tua kami
menjadi orang tua yang baik bagi anak cucu kami
serta menjadi pribadi yang baik bagi sesama kami

Anugerahkanlah kepada kami dan semua anak turun kami
- iman yang kuat, 

- tauhid yang sempurna,
- hati yang bersih dari segala penyakit hati yang bisa menghalangi kami menuju ridhoMu
- pikiran yang jernih serta ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kami
- ahlak yang mulia sebagaimana yang telah ditauladankan oleh  nabiMu Muhammad SAW
- rizki yang halal, mudah, luas dan barokah
- kesehatan dan kekuatan dalam jasmani kami
- keselamatan dari segala kejahatan dan keburukan , lahir dan batin,
baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui
- kehidupan yang baik dengan selalu berbuat kebaikan
dengan hidayah dan inayahMu, sesuai syariatMu yang telah Engkau
turunkan melalui nabiMu Muhammad SAW

Panjangkanlah dan berkahilah usia kami dan semua anak turun kami
dalam ketaatan kepadaMu dan kepada nabiMu 

Anugerahkanlah dan tetapkanlah bagi kami dan anak turun kami
khusnul khotimah, kembali kepadaMu dalam ridhoMu
dan dalam naungan syafaat nabiMu Muhammad SAW
Amin Ya Rabbal Alamin

Beristighfar karena ucapan Al-Hamdulillah

Konon Sirri al-Saqathi, salah seorang kaum Sufi, pernah berkata, ”Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar kepada Allah hanya karena ucapan al-hamdulillah yang keluar dari mulutku” Tentu saja banyak orang menjadi bingung dengan pernyataannya itu lalu bertanya kepadanya, ”Bagaimana itu bisa terjadi?”
Sirri berkata, ”Saat itu aku memiliki toko di Baghdad. Suatu saat aku mendengar berita bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api, padahal tokoku berada di pasar tersebut. Aku bersegera pergi ke sana untuk memastikan apakah tokoku juga terbakar ataukah tidak? Seseorang lalu memberitahuku, ”Api tidak sampai menjalar ketokomu” Aku pun mengucapkan, ”Alhamdulillah!” Setelah itu terpikir olehku, ”Apakah hanya engkau saja yang berada di dunia ini? Walaupun tokomu tidak terbakar, bukankah toko-toko orang lain banyak yang terbakar. Ucapanmu : alhamdulilah menunjukkan bahwa engkau bersyukur bahwa api tidak membakar tokomu. Dengan demikian, engkau telah rela toko-toko orang lain terbakar asalkan tokomu tidak terbakar! Lalu aku pun berkata kepada diriku sendiri lagi, ”Tidak adakah barang sedikit perasaan sedih atas musibah yang menimpa banyak orang di hatimu, wahai Sirri?” (Di sini Sirri menyitir hadis Nabi, ”Barangsiapa melewatkan waktu paginya tanpa memerhatikan urusan kaum muslimin, niscaya bukanlah ia termasuk dari mereka (kaum muslimin)”). Sudah 30 tahun saya beristighfar atas ucapan alhamdulillah itu.
Kisah tentang Sirri al-Saqathi ini merupakan sebuah contoh bentuk cinta diri negatif yang bisa kita katakan sebagai sifat mementingkan diri sendiri. Cinta diri seperti ini menutup pintu bagi segala bentuk perhatian yang sungguh-sungguh pada orang lain. Orang yang mementingkan diri sendiri hanya tertarik pada diri sendiri, dia menghendaki segala-galanya bagi dirinya sendiri, tidak merasakan kegembiraan dalam hal memberi dan hanya senang jika menerima. Dunia luar hanya dipandang dari segi apa yang dapat dia peroleh. Dia tidak berminat untuk memerhatikan kebutuhan-kebutuhan orang lain dan tidak menghargai kodrat serta integritas mereka. Orang macam ini tidak bisa melihat apa-apa selain dirinya sendiri. Dia menilai setiap orang atau lainnya hanya semata dari sisi manfaat buat dirinya. Pada dasarnya orang macam ini tidak punya kemampuan untuk mencintai.
Cinta diri dalam bentuk ini bukanlah sesuatu yang sesungguhnya maujud. Cinta semacam ini sesungguhnya hanyalah suatu bentuk kegandrungan seseorang pada dirinya sendiri. Karena itu cinta diri seperti ini harus disingkirkan. Sebaliknya cinta diri yang merupakan fithrah yang ada pada diri manusia seperti keinginan untuk memuliakan diri, mensucikan diri dan hal-hal semacam itu tentu saja tidak boleh diabaikan atau pun dibuang. Perbaikan dan penyempurnaan diri (nafs) manusia justru merupakan kemestian dan keharusan bagi manusia untuk mewujudkannya.

Menyisihkan uang belanja setiap bulan untuk panti asuhan

Menyisihkan uang ke panti asuhan yatim piatu walaupun misalnya 5ribu/10ribu/20ribu dst setiap bulan adalah alternatif yang bisa kita ambil untuk turut mengasuh mereka secara tidak langsung, kalau belum mampu mengasuhnya secara langsung.....

Kenapa lebih baik melalui panti asuhan? Karena melalui panti asuhan, ada pendidikan dan pembinaan yang mereka berikan kepada anak-anak yatim piatu yang diasuhnya, bukan sekedar memberikan uang saja kepada para anak yatim piatu yang bisa jadi mereka ( para anak yatim piatu ) manfaatkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan negatif bagi mereka sendiri.
"Aku dan pemeliharaan anak yatim, akan berada di syurga kelak", sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah dan telunjuknya, demikianlah sabda baginda s.a.w. (H.R. Bukhari)

Tiga tingkatan cinta kepada Tuhan

Abu Nashr al-Tusi, dalam kitab Al-Luma` membagi al-mahabbah atau cinta menjadi 3 (tiga) tingkatan
1. Cinta orang kebanyakan ( umum.), yakni mereka yang sudah kenal pada Tuhan dengan zikr, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Senantiasa memuji Tuhan.
2. Cinta para mutahaqqiqin, yaitu mereka yang sudah kenal pada Tuhan, pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain sebagainya. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dengan Tuhan. Dengan demikian ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta yang kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
3. Cinta para siddiqin dan ’arifin, yaitu mereka yang kenal betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai .
Definisi cinta dari uraian di atas adalah menurut para ulama’ salaf. Dan cinta yang dimaksud di atas adalah cinta kepada Allah.

PERUMPAMAAN DZIKIR YANG BERSANAD DAN DZIKIR YANG TAK BERSANAD

dzikir itu ku  umpamakan menjalankan amaliyah,  akan ku contohkan, agar mudah di pahami, orang menjalankan amaliyah itu seperti orang menjalankan sanyo/pompa air, sanyo di nyalakan maka harus memenuhi syaratnya agar sanyo itu bisa mengeluarkan air dari pancuran, jika syaratnya kurang, misal tak ada listrik, maka sanyo tak nyala,  atau jika ada listrik tapi sanyo tak ada paralon yang menghubungkan  sanyo ke sumur, maka sanyo di nyalakan selama 1000 tahun juga tak akan keluar airnya, jadi sanyo jika di nyalakan dan ingin keluar airnya, itu harus ada listrik, harus ada paralon yang sabung menyambung, yang tidak bocor, yang menyambung ke dalam sumur, makin dekat sanyo dengan sumur, makin besar air tersedot, jika sanyo jauh dari sumur, maka selain airnya itu keluar sedikit-sedikit, juga  harus di pancing dulu kaau mau menyalakan. lihat paralon sanyo, dia itu jangan sampai berlubang, apalagi putus sambungan di tengah jalan, antara sambungan satu dengan sambungan yang lain itu harus rapat dan erat.


nah sudah paham dengan sanyo? sekarang kita umpamakan, sanyo itu kita yang menjalankan amaliyah, jika di colokkan ke listrik maka kita menjalankan amaliyah, artinya kita menjalankan, sebagaimana sanyo yang di nyalakan. sambungan paralon itu umpama gurukita, guru kita mempunyai guru, gurunya guru kita juga mempunyai guru, begitu seterusnya sambung menyambung, guru ke kakek guru, kakek guru ke kakeknya lagi terus  sambung menyambung sebagaimana paralon yang di sambung dengan lem perekat, di sambung dengan sumpah BAIAT, sumpah kesetiaan,  dunia akherat, karena sambung menyambungnya yang erat itu untuk menjaga air yang akan melewati dalam paralon, agar air itu tetap terjaga kemurniannya, walau paralon sanyo itu di timpuk kotoran manusia maka tak akan mempengaruhi rasa air yang melewati di dalam paralon, air tetap saja murni dan suci, terjaga selalu. sampai ke sanyo , yaitu kita, jadi para guru itu menjaga muru'ah, menjaga makanan, ucapan, bahkan menjaga diri dari dosa kecil maupun besar,  ntuk menjaga agar air  ilmu yang melewatinya tetap suci, dan bening,  paralon itu menyambung terus sampai ke sumur, sumurnya yaitu rosulullah SAW, sumber segala ilmu, ilmu dan fadzilahnya adalah air ,  air yang terjaga, yang suci dan bisa mensucikan, nah ilmu atau manfaat fahilah  air itu bisa di rasakan jika air itu bersih dan bening,  mau air di pakai kuah bakso, boleh, mau di pakai bikin kopi juga enak, mau di pakai mandi juga bersih, mau di pakai apa saja jugaenak, dan bermanfaat.


jadi dzikir atau amaliyah yang di ambil dengan sembarangan itu seperti air yang di ambil sembarangan. ada air kencing, air comberan, air limbah, air kali, air laut dll.jadi jika dzikir itu ku umpamakan air, semua air di dunia itu sama, air kencing, air  sumur, air sungai, air laut, air limbah itu sama, tapi coba bikin kopi dari air kencing, apa enak? coba bikin kuah bakso dari air limbah, apa enak? coba bikin  kolak dari air comberan apa enak?artinya kita kok dzikir sembarangan, asal dapat dzikir lalu di amalkan,  a seperti orang yang minum air kencing , atau air limbah, atau air comberan,  ya kalau gak keracunan lalu mati , kalau langusng mati mendingan terus gak mati-mati, lumpuh, kejet2 seumur hidup apa itu gak menyusahkan banyak orang, ya kalau dzikir sembarangan itu langsung mati, kan lebih enakan seperti itu, dari pada lumpuh atau gila jadi menyusahkan banyak orang. ngamuk2 bawa golok, setiap orang mau di bunuh, karena dirinya di kuasai jin, apa ndak membuat semua orang repot?


orang itu kadang tak berpikir panjang,  soal dzikir di anggap sepele, padahal dzikir itu makanan ruhani, makanan ruh kita, kalau ruhani kita di beri amkan makanan yang tak sehat, apa tak sakit nantinya, maka berhati-hatilah dengan amaliyah sembarangan, sebab kalau jadi hilang akal, gila, di kuasai jin,  apalagi belum nikah,  lelaki gila itu tak ada perempuan waras mau menikah dengannya. artinya gak laku, di jual murah gak laku, sama perempuan gila itu juga tak  ada lelaki waras  mau menikah dengannya.

Perselisihan antara Ulama Haqiqat dan Ulama Syariat


Perselisihan antara Ulama Haqiqat dan Ulama Syariat telah terjadi sejak jaman dulu. Mereka sebenarnya "benar" dalam bidang masing-masing. Sebagaimana terjadi antara Nabi Musa dan Nabi Khaidir. Nabi Musa, bahkan seorang Nabi, beliau tidak memiliki Makrifat. awalnya Musa berpidato di depan kaumnya, lalu dia di tanya kaumnya, siapa yang paling alim, musa menjawab aku, tapi Allah menjelaskan kalau ada manusia yang lebih alim yaitu nabi khaidir, lalu nabi musa meminta ijin untuk bertemu nabi khaidir, dan singkat perjalanan dia bertemu nabi khaidir, di antara pertemuan laut, lalu dia berjalan bersama nabi khaidir, dan oleh nabi khaidir di beri 3 syarat, jikalau musa mempertanyakan 3 hal pada perjalanan, maka musa di anggap gagal bersama nabi khaidir, dan memang jika keduanya menghukumi kejaidan dengan hukum masing-masing, maka tak akan di temui titik temu, keduanya harus saling mengisi dan menyempurnakan, Jadi beliau nabi musa menghukum sesuatu kejadian berdasarkan ilmu Syariat yang ia tahu. Nabi Khaidir pula dikaruniai Allah ilmu Makrifat, jadi ia memutuskan sesuatu berdasarkan ilmunya. Jadi dalam perjalanan bersama Nabi Musa, Nabi Khaidir telah membunuh seorang budak, membangun kembali rumah yang telah hampir musnah dan mengapak kapal yang ia tumpangi. Perbuatan ini sangat bertentangan dengan Syariat Nabi Musa. Karena tidak sabar, Nabi Musa menegur perbuatan Nabi Khidir. Dengan itu mereka terpaksa berpisah sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat sebelum perjalanan. Nabi Khaidir melakukannya karena pada pandangan Makrifatnya, budak itu harus dibunuh karena ia bakal menjadi anak yang nakal, sedangkan ibu / ayahnya orang yang solleh. Dibawah bangunan lama ada harta anak yatim yang belum dewasa. Dalam perjalanan dengan kapal, Nabi Khaidir merusak sedikit kapal yang ditumpanginya agar tidak dirampas oleh Raja yang lalim di pelabuhan yang mereka akan singgah. Raja ini akan merampas kapal-kapal yang baik.

Dalam hal ini Nabi Musa benar dengan ilmunya dan Nabi Khaidir betul dengan ilmunya.

Fatimah az-Zuhra dan Gilingan Gandum


Suatu hari Rasulullah Saw masuk menemui anaknya Fatimah az-Zuhra yang sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fatimah?”, semoga Allah tidak menyebabkan matamu menangis wahai Fatimah”. Fatimah berkata, “ayahanda penggilingan dan urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan ananda menangis”. Lalu Rasulullah Saw duduk disisinya dan Fatimah melanjutkan perkataannya, “ayahanda, sudikah kiranya ayahanda meminta ‘Aliy (suamiku) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.
Mendengar perkataan anandanya ini, Rasulullah Saw bangun mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya “Bismillahirrahmanirrahiim”. Penggilingan itu berputar sendirinya dngan izin Allah SWT. Rasulullan Saw meletakkan syair ke dalam penggilingann tangan itu dengan tangannya sendiri, sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirnya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya. Rasulullah Saw berkata pada gilingan tersebut, “Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT”, maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilinga itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, ya Rasulullah Saw, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Magrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dari kitab Allah SWT suatu yang berbunyi : (artinya) “Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”.
Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah Saw kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-Zuhra di dalam surga”. Maka penggilinga batu itu bergembira mendengar berita itu kemudian ia diam. Rasulullah saw bersabda kepada anandanya, “Jika Allah SWT menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikanmu dan dihapuskan oleh-Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya beberapa derajat.
Ya Fatimah, bagi perempuan yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah SWT akan menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.
Ya Fatimah terhadap perempuan yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.
Ya Fatimah, untuk perempuan yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka serta mencuci pakaian mereka, Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.
Ya Fatimah, bagi perempuan yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya, Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.
Ya, Fatimah, yang lebih utama dari itu semuanya adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidak akan aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fatimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?.
Ya Fatimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman surga, dan Allah SWT akan mengaruniakan kepadanya pahala seribu haji dan seribu umrahserta seribu malaikat beristighfar untuknya hingga hari kiamat. Perempuan yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar, Allah SWT akan mengampuni semua dosa-dosanya dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.
Ya Fatimah, perempuan yang tersenyum di hadapan suaminya, maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.
Ya Fatimah, perempuan yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati, maka para malaikat di langit berseru untuknya, “teruskanlah amalmu, maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”.
Ya Fatimah, perempuan yang meminyakkan rambut dan janggut suaminya dan memotong kumisnya serta menggunting kukunya, maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai surga dan Allah SWT akan meringankan sakratu lautnya, dan kuburnya akan didapati menjadi sebuah taman dari taman-taman seurga serta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan ia selamat melintas di atas titian Shirath”.
Mendengar kisah di atas, betapa banyaknya kebaikan yang bisa didapati oleh seorang wanita. Allah Maha Adil, Allah Maha Bijaksana, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Semoga dengan membaca kisah tersebut, bisa memotivasi kaum wanita agar lebih giat dan ikhlas dalam mengurus urusan rumah tangga.
Wassalam.......

Kentut dan wudhu

Kentut sama kedudukannya seperti pembatal wudhu yang lain , yaitu BAK , BAB dan bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Bedanya adalah kentut dan bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya bukanlah sesuatu yang kotor ataupun dianggap kotor, sehingga keduanya untuk bisa mengulang wudhunya tidak diharuskan ada pembersihan terlebih dahulu pada bagian tubuh yang terkait, melainkan bisa langsung mengulang wudhunya. Berbeda dengan BAK dan BAB, yang juga menjadi pembatal wudhu, tetapi karena termasuk kotor dan membawa kotoran, maka diharuskan membersihkan dulu anggota tubuh yang terkait sebelum bisa mengulang wudhunya. Dan diluar sholat pun kita semua baru "cebok" setelah BAK dan BAB, bukan setelah kentut